Awal Mula Hidup Menyapa

Masih segar dalam ingatan, betapa takutnya aku kalau sampai Ibuku tahu tentang surat cinta pertamaku, kala SD kelas 3

Begitu takutnya sampai-sampai kusembunyikan sepucuk kertas itu di antara semak di taman seberang rumah

Lalu menangis kejar saat aku tak bisa menemukannya kembali

Masih segar dalam ingatan rasa yang menjalar di ragaku tiap kali berjumpa dengan segala yang berbau pujaan hati. Rasa yang sama untuk sosok yang berbeda. Semenjak bocah hingga dewasa

Rasa yang selalu didendangkan dalam syair-syair, balada dan sandiwara romantika. Rasa yang datangnya menyelinap menunggang cahaya dan sonar. Menjalar masuk dalam kegelapan raga tanpa sinaran. Menilisik mengikuti aliran darah, ke jantung, ke jantung dia tuju. Tak heran betapa aku dag dig dug dibuatnya. Jantungku pun berkhianat, menyebarkan rasa itu ke seluruh pelosok jasadku. Mengkudeta salur-salur pikirku. Memenjarakan akal sehatku, mengkerdilkan cendekiaku. Rasa yang menodong otakku memompa lebih banyak adrenalin, dopamin dan serotonin, sampai-sampai terbang aku dibuatnya. Melayang riang di atas awan antara pelangi raksasa.

Lalu

terhentak diriku…

keras!!!

berdentum dengan tandusnya tanah, menembus perut bumi, kilat menuju jahanam!

Masih segar dalam ingatan lara yang meremukkan sekujur tulangku. Lara yang sama karena sosok yang berbeda. Semenjak bocah hingga dewasa

Lara yang menjadikan banyak mahakarya dunia. Lara yang lagi-lagi datangnya menunggang cahaya dan sonar. Mendobrak masuk merobek kulit. Tajam-tajam tertusuk jantungku menembus punggung. Sekejap kepedihan menyerikan seluruh sarafku, dari dada hingga ke ujung-ujung jari kaki tanganku. Lara yang menghempaskan jatiku ambruk ke jurang-jurang terdalam. Mengerdilkan konsep diriku, mencincang halus jiwaku. Ku kira itulah hari akhir, ku kira badai abadi selamanya

Lalu hidup menyapaku

Mengabarkan bahwa tiada yang kekal, bahwa semua berulang dalam satu siklus konstan

Rasa dan lara hilir berganti sepanjang masa nafas terhembus

 

 

Titik Tolak

Beberapa hari yang lalu saya selesai membaca buku Roadmap: The Get It Together Guide for Figuring Out What to Do with Your Life oleh Roadtrip Nation. Sebuah buku yang -seperti sub judulnya- membantu saya mencari tahu apa yang saya ingin lakukan dengan hidup saya. Seperti biasa saya selalu skeptis -tidak yakin dengan kualitas atau kebenaran suatu hal- pada saabookt disodorkan buku ini oleh pasangan saya. Kala itu saya pikir buku ini sama seperti banyak buku motivasi diri lainnya: berisikan bualan dan kata-kata manis saja, supaya laku dibeli sama kami yang putus asa, haus akan motivasi dan tidak tahu harus diapakan hidup kami ini.

Pada awalnya buku ini, seperti layaknya buku motivasi lainnya, menyuguhkan berbagai macam cerita kemenangan para orang-orang sukses. Jelaslah saya menyeleneh, sedikit senang karena kecurigaan saya terbukti. Bukannya saya benci cerita sukses, tapi menurut saya, penyuguhan cerita sukses sering kali bergandengan dengan bias kebertahanan (survivorship bias), yaitu kesalahan logika yang terjadi karena memusatkan perhatian pada para pemenang dan mengabaikan mereka yang tidak, sehingga menghasilkan kesimpulan yang salah. Sebenarnya kebiasan ini sangat bisa dimaklumi, karena masyarakat dunia menganggap kegagalan sebagai hal yang tabu untuk diperbincangkan.

Terlanjur janji dengan pasangan, jadilah saya lanjutkan membaca. Setelah menelan cerita-cerita sukses dengan bibir mencibir, saya sampai pada bagian di mana saya ditanya apa definisi sukses versi pribadi. Dijelaskan bahwa terdapat dua macam suara untuk mendefinisikan sebuah kesuksesan, yaitu suara bising dan suara hati/dukungan. Suara bising yang dimaksud merupakan jejalan definisi sukses yang dicekokan kepada kita oleh sekitaran, baik oleh orang tua, teman, orang asing, guru, pemerintah, masyarakat dan atau media. Biasanya suara bising ini bertentangan dengan suara hati. Suara hati dapat dikenali, jika kita sudah mengenali nilai inti yang menjadikan karakter kita unik dan memberi kedamaian.

Suara bising yang paling lumrah bagi saya biasanya berbunyi seperti ini: “Sukses itu punya banyak uang/ jadi direktur perusahaan A atau B/kerja di institusi C atau D/nikah umur sekian dan punya anak/jalan-jalan keliling dunia.” Tetapi bisa saja suara tersebut merupakan suara hati untuk orang lain, namun tidak bagi saya. Tidanature-person-red-woman.jpgk ada penilaian mana suara hati yang paling baik atau mulia atau dangkal, itu semua relativ, sekali lagi R-E-L-A-T-I-V! Kalau menikah di umur sekian dan punya anak sekian bisa membuat seseorang damai, ya berarti itu suara hati mereka, meskipun sekitarannya berusaha menjejali kalau dia harus punya uang sekian miliar dulu baru punya anak, atau kuliah sampai punya gelar doktor dulu biar sukses. Buku ini mengingatkan saya bahwa definisi sukses TIDAK absolut.

Lebih lanjut buku ini berusaha membantu untuk mengenali minat diri dan nilai inti/prinsip hidup, kemudian menganalisa modal yang dipunya dan yang diperlukan. Langkah konkrit apa yang bisa dilakukan dengan segera untuk bisa melakukan langkah konkrit selanjutnya. Mungkin pembahasan teknis inilah yang menurut saya membuat buku ini berhasil memotivasi saya. Saya diingatkan kembali bahwa saya harus bergerak dan bertindak, bukan hanya sekedar percaya atau bermimpi -walaupun tanpa kepercayaan dan mimpi kita tidak bisa ke mana-mana, tetapi tindakan juga sama penting-. Memang hal yang sangat jelas bagi sebagian banyak orang, tetapi tidak bagi saya. Setiap kali saya mau bertindak, entah kenapa saya selalu punya 1001 alasan mengapa hal tersebut akan sia-sia atau sebaiknya ditunda.

Salah satu hal yang dianjurkan oleh buku ini adalah menulis blog, atau sekedar memposting gambar mengenai hal-hal yang akan membantu diri untuk mendapatkan yang diinginkan atau untuk mencari tahu apa yang mau dilakukan. Jadilah saya menulis lagi dengan harapan, perlahan-lahan saya akan tahu saya mau berbuat apa agar bisa menggapai kesuksesan saya. Sebenarnya saya takut, takut karena kalau saya berbagi, berarti saya membuka diri untuk dinilai oleh para pembaca. Akan ada orang-orang yang senang akan kesasaran dan ketidaktahuan saya, tetapi mungkin juga ada orang-orang yang sebenarnya juga tidak tahu mau apa dengan hidupnya dan masih berusaha mencari tahu.

pexels-photo-217047

Jadilah saya menulis ini, seuntai rangkaian kata yang mungkin tidak koheren isi dari paragaf satu ke lainnya. Namun tidak masalah, artikel ini merupakan langkah pertama saya menjelajah di samudera berbagai kemungkinan dan kesempatan. Bisa jadi nantinya saya bisa menjadi penari yang memukau banyak mata dan menggetarkan banyak jiwa, atau saya memiliki kebun vertikal yang bisa memenuhi kebutuhan dapur pribadi, atau memiliki pusat belajar dengan media baru yang mudah dan banyak diakses oleh pelbagai kalangan secara daring ataupun offline. Atau mungkin saya bisa mengadakan pameran karya pribadi saya di kediaman saya sekarang. Karena saya tersasar, saya punya banyak kemungkinan jalan untuk dijelajah. 🙂

 

 

Note 1#

This is a live report from the Borderline. The sun shone a couple of minutes ago and now we are seeing a big dark cloud crawling in. Looks like there’s a nasty storm coming. This kind of volatility is pretty normal out here. It’s not only the weather, almost everything here is ever-changing, in fact that is the only consistency which thrives in the Borderline, volatility. Beyond is nonexistent.

I swear, I had a lot of things in mind that I wanted to pour here, but they’re somehow gone and couldn’t be found anywhere. I could hope that they might come back. I really thought I would be able to write a brilliant report, but my inspiration well has gone dry out of the blue. Poof! Just like that, without any warning.

I think I will try again tomorrow…

 

Yet Untitled

Somewhere over the rainbow you dwell

and you sing swell season

Somewhere over the rainbow you dwell

in a hut by the lake over a cliff

There, where no grass so green

no flowers so blushing

no bees buzzing so jelly

Somewhere over that rainbow

You claimed you dwell

There went away my trust

Drifting apart from your well

Far…

Far…

Farewell…

 

Forgotten

It feels so weird, to read those lovely words again

I couldn’t remember how I felt when I wrote them

It’s forgotten just like that, as if it never  happened

But I remember how crazy it drove me

Feels like years already

Yet it’s only been two or three weeks ago…

 

Wenn der Sturm vorbei

Nach vielen traurigen Nächten, durch die man dauernd tief im Bett weinte, stand man auf und fragte sich,

“Hä? Was war das überhaupt?”

Im Hintergrund hörte man undeutlich den singenden Freddie Mercury;

“Easy come, easy go…”

Die Gefühle kamen ja easy an

Davor gab es nur Ruhe, dann wurde man ganz plötzlich von dem Sturm  weggerissen

Aus dem Nichts heraus verlor man den Boden unter den Füßen

Eine Sekunde hatte einen die Illusion so glücklich  gemacht, in anderer führte einen diese wunderschöne Illusion ins seelische Chaos…

Dank der Wörter muss man seine Gefühle nicht allein ertragen

Vielleicht war es selbstsüchtig, aber man wußte leider keinen anderen Umgang in dieser Achterbahn der Gefühle

So wie sie ankamen, easy, gingen die Gefühle an einem Morgen weg

Der Sturm war schon vorbei, nun gab es nur noch Trümmer

Man hoffte heimlich, dass es nicht eine andere Ruhe vor einem anderen Sturm ist

Nun fand man alles doof und kindisch, anscheinend war man so, weil man so ein Spielkind gewesen sein soll

Von Trümmern lernte man, dass einen eventuell alle Blödsinne in Ruhe lassen werden, ohne das Gefühl des anderen Menschen zu beleidigen

Der Sturm war schon vorbei, nun gab es nur noch ein großes Loch im Herzen, betäubt und hohl

Jetzt denkt man daran,

“Vielleicht kann ich noch mit dieser Illusion leben? Der Akt war ja immer geil…”

Gottseidank ist die BVG überhaupt nicht geil, um zu der Illusion bequem zu fahren…